12 Cara Menyambung Berbagai jenis Kabel, beserta Gambarnya

Posted on

Hallo kita berjumpa kembali…

Terdapat berbagai cara untuk Menyambung Kabel Listrik, baik itu Kabel Listrik yang Inti Tunggal, Inti Serabut, Kabel Tembaga maupun Kabel berbahan Aluminium.

Kenapa Kabel Listrik harus disambung?
Perlu kita ingat, Bahwa Menyambung Kabel adalah pilihan terakhir jika memang tidak bisa dihindari lagi, karena sebaik-baiknya kabel adalah yang tidak ada Sambungannya, oleh karena itu sebisa mungkin hindari menyambung Kabel listrik.

Namun karena berbagai alasan, seperti misalnya Kabel yang ada terlalu pendek (kurang panjang), ada kerusakan pada sebagian kabel, adanya percabangan jalur instalasi listrik, dan sebagainya, maka harus dilakukan penyambungan kabel.

Kabel listrik berfungsi sebagai Penghantar aliran listrik yang memiliki Tegangan dan frekuensi yang cukup besar, sehingga saat Sambungan Kabel dilalui listrik maka akan terjadi “Getaran” pada kabel tersebut, dan jika Sambungan Kabel tidak terpasang dengan Kuat, maka dapat menyebabkan listrik terputus (Loss Contact), atau bahkan timbul Percikan api pada sambungan kabel tersebut.

Baca juga: Cara mengetahui Kabel yang Putus

Terdapat beberapa cara untuk Menyambung Kabel, yang disesuaikan dengan Jenis dan Bahan Kabel yang akan disambung.

12 Cara Menyambung Berbagai jenis Kabel

Beberapa jenis Sambungan Kabel

1. Sambungan Ekor babi (Pig Tail Joint)

Sambungan Kabel “Pig Tail”

Sambungan jenis “Pig Tail” ini adalah yang paling mudah dan banyak dilakukan untuk menyambung Kabel listrik, Khususnya untuk menyambung Kabel Tembaga Inti tunggal.

2. Sambungan Bolak Balik

Cara menyambung Kabel

Sambungan jenis ini, tergolong agak sulit dilakukan, Namun Sambungan jenis ini Lebih baik dan kuat dibanding Sambungan jenis “Pig Tail”, dan Sambungan kabel ini khususnya digunakan untuk menyambung Kabel tembaga berinti Tunggal

Artkel Terkait  Penyebab Colokan listrik Panas atau Meleleh, dan cara mengatasinya

3. Sambungan Puntir

Menyambung kabel cara “Bell Hanger”

Sambungan Kabel jenis “Bell Hanger” ini, tergolong Sambungan yang cukup bagus, Cukup mudah dibuat, dan juga khusus untuk Kabel Inti Tunggal.

Sambungan “Western union”

Sambugan Kabel dengan cara “Western Union” ini, Sebenarnya hampir sama dengan cara menyambung kabel “Bell Hanger“, sedikit perbedaan pada cara memuntir kabelnya. dan berfungsi untuk menyambung kabel berinti tunggal.

4. Sambungan datar bercabang

  • Sambungan Cabang Tunggal (Single Plain joint)
Sambungan kabel “cabang tunggal”

Sambungan kabel “Single Plain” ini, biasa digunakan untuk menyambung kabel pada percabangan, Salah satu kabel utama tidak terputus (utuh) dan dikupas pada bagian isolasinya, kemudian ujung kabel lainnya dililitkan pada bagian yang sudah terkelupas tersebut, dan Sambungan ini khusus untuk kabel berinti tunggal.

  • Sambungan Cabang Tunggal (Knotted tab Joint)
cara menyambung kabel cabang tunggal

Sambungan kabel “Knotted tab” ini, Hampir sama dengan jenis “Single Plain”, hanya perbedaannya pada teknik melilitnya yang sedikit lebih rumit namun memiliki kualitas sambungan lebih baik, biasa digunakan untuk menyambung kabel pada percabangan, Salah satu kabel tidak terputus (utuh) dan dikupas pada bagian isolasinya, kemudian kabel lainnya dililitkan pada bagian yang sudah terkelupas tersebut, dan Sambungan ini khusus untuk kabel berinti tunggal.

  • Sambungan bercabang silang
Sambungan silang

Sambungan kabel bercabang silang ini, adalah gabungan beberapa Sambungan kabel “Single Plain”, biasa digunakan untuk menyambung kabel lebih dari satu percabangan, Salah satu kabel utama tidak terputus (utuh) dan dikupas pada bagian isolasinya, kemudian kabel-kabel lainnya dililitkan pada bagian yang sudah terkelupas tersebut, dan Sambungan ini khusus untuk kabel berinti tunggal.

Artkel Terkait  Pola keruangan desa dan kota Desa Definisi desa menurut Bintarto (1977) adalah suatu perwujudan geografi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis, politik, dan budaya di suatu wilayah dalam hubungan dengan pengaruh timbal balik dengan daerah-daerah lain. Sedangkan menurut undang-undang No. 5 tahun 1979 tentang pemerintah daerah, desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum, yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah, langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. Unsur-unsur desa: 1. Lokasi: luas dan batas wilayah serta penggunaannya 2. Penduduk: jumlah, pertumbuhan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian 3. Tata kehidupan: pola dan ikatan pergaulan sesama penduduk desa 4. Keadaan tanah dan iklim: mempengaruhi hasil dari lahan pertanian 5. Keadaan bentang alam: sebaran desa di daerah yang datar lebih maju Klasifikasi desa: Berdasarkan tingkat perkembangan masyarakat : a. Desa tradisional Ciri-ciri desa tradisional: - Masyarakatnya masih terasing - kebutuhan hidup masih tergantung pada alam - masih terikat adat istiadat - bermatapencaharian sama - kehidupan sosial masih tertutup - wilayah masih terisolasi b. Desa swadaya Ciri-ciri desa swadaya: - wilayahnya terisolir - penduduknya jarang - bersifat tertutup - bermata pencaharian sama - hubungan sosial yang erat - kurangnya sarana dan prasarana c. Desa swakarya Ciri-ciri desa swakarya: - wilayah tidak terisolir - tidak terikat adat istiadat - mulai mengenal teknologi - sarana dan prasarana memadai - lalu lintas lancar d. Desa swasembada Ciri-ciri desa swasembada - Berlokasi di ibukota dan kecamatan - Penduduk padat - Tidak terikat dengan adat istiadat - Sudah memiliki fasilitas yang maju Berdasarkan bentuk ikatannya: a. Desa geneologis, contoh masyarakat Minangkabau b. Desa territorial, contoh masyarakat Jawa dan Madura c. Desa campuran, contoh masyarakat Sumatera Berdasarkan keadaan topografi desa: a. Desa yang wilayahnya datar, transportasi dilakukan dengan mobil, truk, dokar, atau delman. b. Desa yang wilayahnya kasar atau berbukit, transportasi dilakukan dengan kendaraan berat, kuda, ruk, dan pesawat terbang. Berdasarkan unsur letak desa: 1. Pada umumnya menjauhi kota 2. Desa yang dekat dengan kota lebih maju 3. Letak desa berjauhan satu sama lain 4. Perjalanan dari desa ke desa menjauhi kota 5. Lingkungan geografi terletak pada daerah dengan air tanah dangkal 6. Alat transportasi wilayah ini dengan kuda dan kendaraan berat Potensi desa untuk Negara Potensi yang dimiliki desa meliput sumber daya alam dan sumber daya manusia. Potensi tersebut berupa potensi fisik dan non fisik. 1. Potensi fisik meliputi iklim dan cuaca, flora dan fauna, juga tanah dan air 2. potensi non fisik meliputi masyarakat desa, Lembaga-lembaga sosial desa, dan aparatur desa Fungsi desa untuk Negara 1. Desa sebagai hinterland, desa sebagai pemasok kebutuhan karena desa lebih banyak memproduksi daripada mengkonsumsi 2. Desa sebagai sumber tenaga, menyediakan jumlah tenaga kerja yang banyak 3. Desa sebagai bentuk pemerintahan, desa sebagai bentuk terkecil dari pemerintahan 4. Desa merupakan mitra, desa sebagai awal terbentuknya kota sehingga desa merupakan mitra pembangunan negara Pola persebaran desa 1. Pola memanjang (linier) Pola ini biasanya mengikuti arah jalan umum atau jalan besar, masyarakat menyebar di sisi kanan atau kiri jalan raya. 2. Pola tersebar Pola ini terjadi karena kesuburan tanah tidak merata sehingga desa tersebar tidak teratur 3. Pola menyebar Pola ini terjadi karena permukaan wilayah yang kasar sehingga masyarakat menjadi menyebar Kota Menurut Permendagri No. 4 Tahun 1980 kota adalah suatu wadah yang memiliki batasan administrasi wilayah seperti kotamadya dan kota administrative. Kota juga berarti suatu lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris. Sedangkan menurut UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, kota adalah Kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi Kawasan sebagai tempat pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kota biasanya mengelilingi pusat-pusat daerah kegiatan (PDK), sedangkan wilayah di luar daerah kegiatan disebut selaput inti kota (SIK). Pengelompokkan unit kegiatan di kota yaitu: 1. sentralisasi, kegiatan mengelompok pada suatu titik atau tempat menjadi pusat daerah kegiatan. Keramaian terjadi pada siang hari karena fasilitasnya berupa kantor, bank, toko, dll. 2. nukleasi, sama seperti PDK 3. desentralisasi, kegiatan menjauhi titik utama sehingga menimbulkan pusat-pusat baru 4. segregasi, kelompok perumahan-perumahan yang terpisah karena perbedaan sosial Unit kegiatan yang terjadi di perkotaan sebagai berikut: a. Pertokoan b. Perumahan c. Pemerintahan d. Stasiun e. Pasar f. Sekolah g. Hiburan dan rekreasi Interaksi kota Interaksi yang positif di kota: 1. Pengetahuan penduduk desa meningkat karena adanya sarana Pendidikan 2. Para guru dapat memperoleh pengetahuan yang luas sehingga dapat menjadi penggerak kemajuan warga 3. Teknologi pertanian dan peternakan meningkatkan hasil produksi 4. Banyaknya para ahli sehingga dapat melestarikan lingkungan desa Interaksi yang negative di kota: 1. Banyak lapangan kerja di kota sehingga tenaga kerja untuk pertanian berkurang 2. Tata guna lahan di pedesaan berubah karena perluasan kota 3. Penetrasi kebudayaan kota ke desa 4. Masalah pangan, pengangguran, dan lingkungan Interaksi kota di bidang ekonomi dan sosial budaya 1. Bidang ekonomi - pangan, pakaian, dan perumahan - tenaga kerja - sumber daya alam dan energi - perindustrian 2. Bidang sosial - kepadatan penduduk - jumlah penduduk - perkembangan koperasi dan organisasi sosial - pertambahan penduduk - persebaran penduduk 3. Bidang budaya - kesenian - Bahasa - kemasyarakatan

5. Sambungan Britania

Sambungan Kabel “Britania”

Menyambung kabel dengan cara “Britania” ini, adalah dengan melekatkan dua ujung kabel yang sudah dikelupas isolasinya, kemudian dengan menggunakan potongan inti kabel/kawat berukuran lebih kecil sebagai lilitan pengikat.

6. Sambungan Scraf

Sambungan Kabel “Scraf”

Sambungan jenis “Scraf” ini hampir sama dengan Menyambung kabel dengan cara “Britania”, perbedaannya hanya pada Kabel yang akan disambung dipipihkan terlebih dahulu untuk menghasilkan sambungan yang tidak terlalu besar, serta ukuran kabel yang akan disambung biasanya jauh lebih besar dibanding inti kabel/kawat untuk melilitnya, caranya dengan melekatkan dua ujung kabel yang sudah dikelupas isolasinya, kemudian dengan menggunakan potongan inti kabel berukuran yang jauh lebih kecil sebagai lilitan pengikat.

7. Sambungan single wrapped cable Slice.

Sambungan kabel “Single Wrapped cable slice”

Sambungan Kabel jenis ini, terlihat cukup rumit dilakukan, namun akan menghasilkan sambungan yang cukup baik dan kuat, sambungan jenis ini biasa digunakan untuk menyambung kabel berinti banyak, atau kabel serabut.

8. Sambungan dengan “Connector Cable”.

Cara Menyambung Kabel

Untuk sambungan kabel lainnya yang sering digunakan untuk kabel berinti tunggal maupun berinti banyak, dapat menggunakan Connector cable, yang bentuknya seperti selongsong kemudian masing-masing ujung kabel dimasukkan kedalamnya, kemudian connector di jepit (ditekan) dengan menggunakan Tang Skun (Crimping Pliers), cara ini jauh lebih mudah,cepat dan Bagus dibanding beberapa cara sambungan lainnya, selain itu hasil sambungan kabel lebih simple dan dapat dibungkus isolasi dengan mudah.

9. Sambungan Kabel dengan cara di Solder.

Bagaimana cara menyambung kabel listrik
Cara menyambung kabel serabut dengan di Solder

Untuk cara menyambung jenis Kabel Serabut berukuran kecil (Wayar), sebaiknya disambung dengan cara di Solder, kedua ujung kabel dapat dipuntir terlebih dahulu kemudian di satukan dengan cara di Solder. hasil sambungan dengan cara ini jauh lebih kuat, karena kabel benar-benar menyatu dengan timah solder.

Artkel Terkait  Kelentukan, keseimbangan, keluwesan, fleksibilitas, kontinuitas, dan ketepatan dengan irama merupakan

10. Sambungan Kabel (Mata itik/Lingkaran).

Menyambung kabel bentuk lingkaran

Sambungan ini biasa disebut dengan Mata Itik (Lingkaran), dengan membentuk berupa lingkaran di ujung kabel, kemudian menyambung kedua kabel tersebut dengan menggunakan baut/sekrup pengikat.

11. Sambungan dengan “Scun Cable”.

Menyambung kabel dengan Skun

Sambungan dengan menggunakan kabel Skun (Scun Cable), hampir sama dengan Sambungan Mata Itik (Lingkaran), Namun tidak perlu membentuk lingkaran, dengan menggunakan Skun Kabel bulat dipasang pada kedua ujung kabel, kemudian menyambung kedua kabel tersebut dengan menggunakan baut/sekrup pengikat.

12. Sambungan dengan “Joint Sleeve”.

Menambung Kabel dengan “Joint Sleeve”

Sambungan dengan menggunakan “Joint Sleeve” ini biasa digunakan untuk menyambung cable berukuran lebih besar dan dapat digunakan untuk kabel tembaga maupun Aluminium, dengan bentuk sambungan yang lebih panjang dan caranya sama dengan menggunakan Cable Connector.

Semoga bermanfaat


[ad_2]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *